Maarten Paes bercerita tentang perasaannya ketika bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK). Ia selalu takjub dengan atmosfer yang disuguhkan oleh suporter di tiap kali Timnas Indonesia melakoni laga kandang.
Maarten Paes sudah bermain sebanyak 4 kali di GBK sejak dinaturalisasi. Debutnya di GBK saat Timnas ditahan Australia 0-0 pada laga kedua Grup C Ronde 3 pada September 2024, kemudian saat kalah 0-4 dari Jepang dan menang 2-0 atas Arab Saudi pada November 2024, dan teranyar saat mengalahkan Bahrain 1-0 pada 25 Maret 2025.
Paes selalu terkesan dengan atmosfer suporter di GBK. Dirinya selalu takjub akan hal itu dan selalu merinding tiap kali dengar suara gemuruh suporter. Bahkan, terkadang atmosfer itu menjadi suatu tantangan tersendiri baginya.
"Anda tidak akan pernah terbiasa dengan itu [soal atmosfer di GBK]. Membuat merinding sekujur tubuh. Di sana sangat lembab, dan kemudian berada di tengah kota. Jadi dengan 80.000 orang, mereka menarik semua oksigen di stadion, jadi sangat sulit bernapas," ujar Paes dikutip dari kanal YouTube FC Dallas.
"Kemudian, lagu kebangsaan [Indonesia Raya] yang kami nyanyikan bersama dengan penuh semangat, itu membuat kami sangat bersemangat untuk bertanding," tambahnya.
Paes juga menyanjung kesetiaan suporter yang terus tak henti memberi dukungan penuh dari penjuru tribune. Mereka bersorak keras tiap kali Timnas cetak gol, tak diam ketika Timnas berada dalam tekanan. Paes ambil contoh saat laga terakhir melawan Bahrain.
"Mereka [suporter] selalu ada di sana. Kami selalu memiliki perasaan yang sangat baik. Kami mencetak gol, 1-0 [di babak pertama], dan di babak kedua kami melalui periode yang sulit, kami harus bertahan. Tapi kemudian, untungnya, kami bertahan dengan sangat baik," tutupnya.
Namun, Maarten Paes akan absen saat Timnas Indonesia melakoni laga kandang terakhir dalam Ronde 3 pada Juni mendatang. Sebab, ia terkena akumulasi kartu kuning.
Adapun Timnas Indonesia menyisakan dua laga terakhir pada Ronde 3. Skuad 'Garuda' akan menjamu China di GBK pada 5 Juni, dan bertandang ke markas Jepang di Suita pada 10 Juni.