Liputan6.com, Jakarta - Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat atau ada pembuluh darah yang pecah, menyebabkan darah mengalir ke dalam otak. Kondisi ini bisa berakibat fatal dan merupakan salah satu penyebab utama kecacatan di seluruh dunia.
Di Amerika Serikat, sekitar sepertiga orang dewasa memiliki faktor risiko utama stroke, seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, atau diabetes. Faktor lain seperti usia, jenis kelamin, etnis, dan genetika juga berperan, menurut CDC.
Setiap tahunnya, lebih dari 795.000 orang Amerika mengalami stroke—atau sekitar satu orang setiap 40 detik. Stroke merenggut sekitar 140.000 nyawa per tahun dan menjadi penyebab 1 dari 20 kematian di negara itu.
Benarkah Pendidikan Lebih Tinggi Dapat Melindungi Otak?
Selama bertahun-tahun, para ahli memperdebatkan apakah tingkat pendidikan yang lebih tinggi bisa membantu otak tetap tajam meskipun mengalami penuaan, cedera, atau penyakit.
Di tahun 2022, sebanyak 104 juta orang Amerika berusia 25 tahun ke atas memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi—sekitar 37,7% dari populasi AS, menurut Biro Sensus. Hipotesisnya, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin lambat pula penurunan fungsi kognitif setelah stroke.
Namun, penelitian terbaru yang dipublikasikan di JAMA Network Open justru menemukan fakta yang mengejutkan.
Studi: Pendidikan Tinggi Justru Bisa Mempercepat Penurunan Kognitif
Tim peneliti menganalisis lebih dari 2.000 pasien stroke antara tahun 1971 hingga 2019. Hasilnya, mereka yang memiliki gelar perguruan tinggi memang tampil lebih baik dalam tes awal pasca-stroke yang mengukur daya ingat, perhatian, dan kecepatan berpikir.
Namun, mereka justru mengalami penurunan lebih cepat dalam fungsi eksekutif seperti daya ingat dan pemecahan masalah dibandingkan dengan mereka yang hanya memiliki pendidikan menengah.
“Atrofi otak terjadi seiring waktu, terlepas dari tingkat pendidikan,” ujar peneliti utama, Springer, dilansir New York Post.
“Temuan kami menunjukkan bahwa pendidikan tinggi memungkinkan seseorang untuk mempertahankan fungsi kognitif lebih lama. Namun, ketika cedera otak akibat stroke terjadi, mekanisme kompensasi ini bisa gagal, menyebabkan penurunan kognitif yang lebih cepat,” tambahnya.
.
Risiko Demensia Pasca-Stroke
Menurut American Stroke Association, sekitar 60% penyintas stroke mengalami masalah memori dan berpikir dalam satu tahun setelah stroke. Sepertiga dari mereka bahkan mengembangkan demensia dalam waktu lima tahun.
Penurunan kognitif ini bisa berdampak besar pada kehidupan sehari-hari—mulai dari kesulitan bekerja dan mengemudi hingga tantangan dalam hidup mandiri, berpikir, merencanakan, dan berkomunikasi, kata Dr. Nada El Husseini, profesor madya neurologi di Duke University Medical Center.
Untuk memahami lebih lanjut faktor-faktor yang memengaruhi risiko penurunan mental setelah stroke, tim peneliti juga meneliti alel ApoE4—penanda genetik yang dikaitkan dengan penyakit Alzheimer. Hasilnya, jumlah alel ApoE4 pada pasien stroke ternyata tidak berpengaruh terhadap hubungan antara pendidikan dan penurunan kognitif.
Yang lebih mengejutkan, jumlah stroke yang dialami seseorang juga tidak memengaruhi hubungan tersebut.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Saat ini, pilihan pengobatan untuk mencegah atau memperlambat penurunan kognitif pasca-stroke masih sangat terbatas.
“Kami kekurangan perawatan yang bisa mencegah atau memperlambat penurunan kognitif dan demensia setelah stroke,” kata Dr. Deborah A. Levine, profesor penyakit dalam dan neurologi di Fakultas Kedokteran Universitas Michigan.
“Studi ini memberi wawasan baru tentang faktor-faktor yang memengaruhi penurunan kognitif pasca-stroke, serta membantu mengidentifikasi pasien yang berisiko lebih tinggi,” tambahnya.
Penelitian ini menegaskan bahwa meskipun pendidikan tinggi bisa membantu menjaga ketajaman otak, hal itu tidak selalu memberikan perlindungan jangka panjang terhadap dampak stroke. Oleh karena itu, menjaga kesehatan otak melalui pola hidup sehat tetap menjadi kunci utama dalam mencegah risiko stroke dan dampaknya di kemudian hari.